Langsung ke konten utama

17 Agustus di Benua Batubara





Aku ratih, aku anak baru disini, di tempat yang penuh dengan tawa sinis, aku berasal dari luar pulau ini aku bersal dari Jawa yang berkelana merantaukan diri mencari sebuah cita-cita di pulau seribu sungai yang aku sebut Benua Batubara.
4 Agustus aku berangkat dari desa yang makmur penuh dengan kedamaian menuju kota yang penuh dengan kekisruhan macet dimana-mana, gedung bertingkat, polusi udara lautan manusia, semua menyatu. Ya aku berangkat menuju bandung 7 jam aku lalui dengan penat, setelah itu aku dan kakak ku mencari sebuah hotel untuk beristirahat disana dan kita memilih hotel Van Java3, keesokan harinya aku, kakak, ipar dan keponakanku pergi bersilaturahmi menuju nenek yang kini umurnya sudah sangat renta namun iya adalah wanita perkasa yang pernah aku temui, ia adalah saksi perkembangan indonesia, dia adalah kartini yang masih hidup dengan perjuanganya. Tepat pukul 12:00 wib aku berangkat menuju Jakarta dengan naik Travel dari Bandung sungguh perjalanan yang melelahkan, ku lihat di sebelah kiri saat pertengah perjalanan banyak sekali anak-anak kecil yang bermain di jalanan, apakah negeri ini tidak memberi 1 petak lapangan untuk bermain anak-anak ? tanya ku dalam hati anak-anak itu begitu bersemangat dengan bola yang mereka tendang, dengan lagu yang mereka dendangkan. Ku teringat bahwasanya saat ini sedang ramai sengketa Pilpres dan aku harap suatu saat pemenangnya dapat memberikan 1 petak lapangan untuk mereka bermain, sang anak-anak kota yang tersesat bermain di jalanan.  Dan ku lihat di sebelah kanan lapangan begitu luas, rumput tertata sangat rapi, permandangan yang indah menyejukan hati “kenapa anak-anak itu tidak bermain di sana” pikirku. Dan ku lihat terpampang begitu jelas ternyata lapangan itu hanya untuk orang-orang yang mempunyai dompet tebal ya disana adalah tempat bermain golf. Butuh 4 jam untuk sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Ku lihat betapa megahnya bandara ini teringat jasa pak Soekarno memerdekaan Negeri ini, pastaslah bandara ini di sebut bandara Soekarno-Hatta. Ku lihat Pesawat-pesawat yang begitu megah mengingatkan ku pada 1 sosok yang sangatlah genius Pak Habibie, beliau adalah harta Indonesia yang paling berarti salah satu anak terbaik di negeri ini. Kini telah saatnya aku meninggalkan pulau Jawa, Pulau dimana aku di lahirkan, Pulau dimana ada Seuntai kenangan , 19:50 akupun berangkat dengan naik Pesawat Lion Jurusan Jakarta-Banjarmasin. Ini merupakan pengalaman pertama ku menaiki pesawat, tak pernah ku berpikir aku akan pergi sejauh ini, ketika pesawat lepas landas ku melihat dari jendela seluruh Jakarta yang di hiasi beribu-ribu lampu, aku menangis dalam hati “apakah benar aku akan meninggalkan pulau jawa yang indah ini?”. 1 jam setengah di perjalanan dan sampailah aku di benua batu bara Bandar Udara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan yang begitu melelahkan hingga sampailah aku di Sungai Andai di mana Komplek rumah kakak ku berada. Saat perjalanan menuju Komplek aku melihat beberapa sungai yang begitu besar, tak salah bahwa pulau ini di beri nama Kalimantan.
1 Minggu kemudian akupun mencari sebuah loker dari koran yakni koran Banjarmasin Post Group disana banyak sekali lowongan dan 9 perusahaan aku kirimkan CV, dan sampai sekarang aku masih menunggu panggilan dari perusahaan tersebut. Terdiam ku di teras rumah, rumah yang bawahnya Rawa terbuat dari kayu sangat jauh berbeda dengan bangunan rumah di Jawa. Aku melihat tingkah pola masyarakat disini jauh berbeda dengan di kampungku, ya di kapungku masih ada tegur sapa, senyum canda tawa, rukun dengan tetangga, gotong royong dimana-mana, mungkinkah hal tersebut hanya berlaku di kampung saja? “ya tuhannnnn” di sini semua sangat berbeda orangnya sendiri-sendiri acuh tak peduli. 






Suatu hari tepatnya tanggal 15 Agustus 2014 aku membuka salah satu jejaring sosial dan disana ada temanku yang upload fotonya dengan latar merah putih, bendera dimana-mana, setiap gang terhiasi dengan semua antusias warga tuk merayakan hari Kemerdekaan kita, dimana Orang tua kita dulu berjuang, bertumpah darah, hanya untuk 1 kata merdeka. Sungguh terbayang bagaimana perjuangan mereka menghabiskan semua harta benda bahkan nyawapun mereka taruhkan,  aku hampir lupa bahwa sekarang akan mendekati Kemerdekaan indonesia, karena disini jauh berbeda dengan Kampung halamanku yang begitu antusias merayakan Kemerdekaan Indonesia disini hanya di depan gang saja ada bendera yang bertuliskan “Dirgarahayu Indonesia”  di setiap jalanpun ada namun tak seramai kampungku, Ku berpikir apakah 17san kali ini aku akan menjadi warga negara masyarakat yang tidak baik ? aku anak baru disini aku mencari sebuah lapanganpun sulit, tapi akan aku usahakan di tanggal 17 nanti aku akan melihat berkibarnya Bendara Pusaka, teringat dimana pada 3 tahun yang lalu dimana setiap 17 Agustus aku selalu menjadi anggota Paskibra membantu jalanya mengibaran sang merah putih degan pakaian putih-putih berpeci pin Garuda, dengan kerja keras latihan yang hanya 2 minggu latihan tapi kita mampu mengibarkan bendera dengan sukses  aku masih ingat semua itu. Derap langkah yang sama, Tegap dan Tegas adalah Prinsip Kami, ya Paskibra. “Paskibra tidak takut salah ! tidak takut kalah ! tidak takut mati ! takut mati jangan hidup ! takut hidup mati sekalian!”. Teringat di 17 Agustus 2012 pertama kali aku masuk SMK disana aku dan kawan-kawan  berpartisipasi tuk menjadi anggota Paskibra ,membawa sang merah putih dengan pakaian lengkap ku berdiri hormat pada sang merah putih detik-detik proklamasi di kumandangkan suasa begitu ramai, bersorak seakan kita bebas dari semua penjajahan, kala itu bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga banyak yang gugur terjatuh di buatnya. 10 Agutustus 2013 hampir 3 minggu aku latihan dan disana aku dapat membantu kembali mengibarkan sang merah putih sungguh membanggaka, disini merupakan acara syukuran dan selanjutnya paskibra kami akan di tampilkan di 17 Agustus mendatang namun dengan salah pahaman teman-temanku yang sebenarnya dulu aku sedang sakit namun teman-teman mengatakan pada sang pelatih bahwa aku tidak dapat izin maka dari sana aku berhenti padahal hanya tinggal menghitung hari,kecewa rasanya namun jiwa seorang paskibra tidak akan kalah dengan hal seperti itu. di tanggal 17nya akupun berpakaian loreng ya TNI-AD wajah ku coret-coret, rambut ku potong seolah aku adalah seorang pejuang semua orang tak mengenaliku, ku berjalan begitu gagah semua orang menyapa “MARINIRRRRR....” saat itu aku dan iin begitu bangga mengenakan seragam loreng-loreng di hari kemerdekaan ini.



****
17 agustus 2014 di Benua Batubara
Sepi terasa tinggal di komplek, mungkin benar di tanggal 17 ini aku bukan warga masyarakat yang baik untuk upacara saja aku tak bisa, ku tak menemukan lapangan disini, akupun melihat sang langit dan di sebelah kananku ada sang merah putih yang berkibar begitu indah  ku terdiam dan lidah ku mengucapkan 
 P R O K L A M A S I 
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA.
 HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN DISELENGGARAKANDENGAN CARA SAKSAMA DAN DALAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA.
 DJAKARTA, 17 AGUSTUS 1945 
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA.
 SOEKARNO-HATTA.
dengan sendirinya, tanpa ku sadari. Siang harinya ku berjalan-berjalan menyelusuri Benua batubara ini dengan kakak ku, ternyata antusias warga disini masih sangat besar terlihat di sudut-sudut kota mereka memeriahkan hari kemerdekaan RI, dengan lomba-lomba yang sangat unik. Aku tlah salah menilai benua batu bara ini, 17 Agustus disini tidak kalah rame dari kampungku, mungkin komplek ku saja yang masih belum bisa mengerti akan pentingnya 17 Agustus, dimana sang Proklamator pak Soekarno berjuang membebaskan kita dari kecaman sang penjajah. Kita sekarang sudah bebas! Dan kini tidak ada lagi penjajahan yang mengikat negara kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita membangun negara kita. Sebuah negara bebas, Negara Republik Indonesia-selamanya dan abadi independen. Kita harus menjaganya, jangan sampai ada yang merebutnya lagi maka dari itu jangan pernah sepelekan 17 Agustus. Sekian Ratih anak jawa yang berkelana di Benua Batubara


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menurut Gue

Menurut gue, kesempatan itu gak datang dua kali. Ketika ada kesempatan maka manfaatkan kesempatan itu jangan lo sia-siain, dalam hubungan ketika dia tak bisa memperjuangan kesempatan itu sulit untuk memberikan kesempatan ke-2 itu bagi gue ya.  Menurut gue, jika sebuah kepercayaan telah hancur di kesempatan pertama, dan buat gue kecewa. Gue gak mau kembali kecewa, gue gak mau ambil resiko jika suatu saat dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Menurut gue, sabar itu penting. Coba aja lo sabar mungkin ceritanya gak bakalan gini, gak bakalan ada yang  kecewa dan dikecewain, coba deh berpikir lebih positif ke arah depan jangan nengok ke belakang mulu, apa sih mikirin masa lalu, yang malah bikin lo semakin terpuruk dan tersesat, sedih gak jelas, sakit iya. Menurut gue, ketika lo mencoba bangkit dari keterpurukan lo, lo harus bisa menghapus semua potret tentang dia di hati lo, jangan setengah-setengah kalo lo ingin cepet Move on, ya mungkin lo susah lupain dia, ...
Kesalahan fatal yang gue buat skenarionya sendiri, remaja labil seperti gue emang sulit menetapkan sebuah perasaan kadang gue bilang "suka banget", "cinta banget", "sayang banget" tapi tak jarang gue juga bilang "benci banget". Pernah gak sih lo pikir saat remaja kayak gini kita tuh kayak orang gila kadang mesem-mesem sendiri, ketawa sendiri, bahkan marah-marah sendiri. Itulah remaja emosinya masih memuncak dengan hati yang masih labil. Ketika telah mengenal cinta ada dua pilihan, hancur atau bahagia. Bagi lo yang masih sekolah jangan harap prestasi lo naik ketika lo tlah mengenal problem cinta. Gue sendiri korbanya hahaha malah curhat, prestasi turun, nilai ujian anjlok, belajar gak fokus, pikiran kita gak singkron dengan hati. Situasi seperti ini yang sering di alami kita jika kita mengenal apa itu problem cinta. lo tau Galau? iya Galau, pernah ngerasain? Bohong banget kalo lo gak pernah ngerasain apa itu galau toh dari anak kecil ...

Qori, Pencuri Kepingan Hati

Dalam membaca Al-Qur’an harus menjaga ucapan agar tidak keluar dari kaidah makhorijul huruf dan shifatul huruf serta melantunkan suara agar merdu terdengarnya, namun ada yang lebih penting dari itu yakni memahami akan makna yang ada di dalamnya kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari Alloh S.W.T berfirman “Orang-orang yang kami turunkan kitab kepadanya, mereka membaca dengan sebenar-benarnya” (QS.Al-baqaroh:121). Imam Al-Ghozali berkata bahwa membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya adalah mengikut sertakan lisan,akal,dan hati. Akupun hanya bias terkagum-kagum dengan suara sang qori   yang setiap qobla subuh dan maghrib melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ia membacanya dengan hati sehingga aku terhanyut mendengarnya, aku semakin penasaran siapa yang membaca ayat suci Al-Qur’an semerdu itu. Sepengetahuanku hanya pak ustadz Solihin dan pak Rois yang selalu mengaji di mesjid Al-falah, bahkan aku sudah hafal akan suara mereka. Namun akhir-akhir ini ada suara baru yang m...