Aku ratih, aku anak
baru disini, di tempat yang penuh dengan tawa sinis, aku berasal dari luar
pulau ini aku bersal dari Jawa yang berkelana merantaukan diri mencari sebuah
cita-cita di pulau seribu sungai yang aku sebut Benua Batubara.
4 Agustus aku berangkat
dari desa yang makmur penuh dengan kedamaian menuju kota yang penuh dengan
kekisruhan macet dimana-mana, gedung bertingkat, polusi udara lautan manusia,
semua menyatu. Ya aku berangkat menuju bandung 7 jam aku lalui dengan penat,
setelah itu aku dan kakak ku mencari sebuah hotel untuk beristirahat disana dan
kita memilih hotel Van Java3, keesokan harinya aku, kakak, ipar dan keponakanku
pergi bersilaturahmi menuju nenek yang kini umurnya sudah sangat renta namun
iya adalah wanita perkasa yang pernah aku temui, ia adalah saksi perkembangan
indonesia, dia adalah kartini yang masih hidup dengan perjuanganya. Tepat pukul
12:00 wib aku berangkat menuju Jakarta dengan naik Travel dari Bandung sungguh
perjalanan yang melelahkan, ku lihat di sebelah kiri saat pertengah perjalanan
banyak sekali anak-anak kecil yang bermain di jalanan, apakah negeri ini tidak
memberi 1 petak lapangan untuk bermain anak-anak ? tanya ku dalam hati
anak-anak itu begitu bersemangat dengan bola yang mereka tendang, dengan lagu
yang mereka dendangkan. Ku teringat bahwasanya saat ini sedang ramai sengketa
Pilpres dan aku harap suatu saat pemenangnya dapat memberikan 1 petak lapangan
untuk mereka bermain, sang anak-anak kota yang tersesat bermain di jalanan. Dan ku lihat di sebelah kanan lapangan begitu
luas, rumput tertata sangat rapi, permandangan yang indah menyejukan hati
“kenapa anak-anak itu tidak bermain di sana” pikirku. Dan ku lihat terpampang
begitu jelas ternyata lapangan itu hanya untuk orang-orang yang mempunyai
dompet tebal ya disana adalah tempat bermain golf. Butuh 4 jam untuk sampai di
Bandara Soekarno-Hatta. Ku lihat betapa megahnya bandara ini teringat jasa pak
Soekarno memerdekaan Negeri ini, pastaslah bandara ini di sebut bandara Soekarno-Hatta.
Ku lihat Pesawat-pesawat yang begitu megah mengingatkan ku pada 1 sosok yang
sangatlah genius Pak Habibie, beliau adalah harta Indonesia yang paling berarti
salah satu anak terbaik di negeri ini. Kini telah saatnya aku meninggalkan
pulau Jawa, Pulau dimana aku di lahirkan, Pulau dimana ada Seuntai kenangan ,
19:50 akupun berangkat dengan naik Pesawat Lion Jurusan Jakarta-Banjarmasin.
Ini merupakan pengalaman pertama ku menaiki pesawat, tak pernah ku berpikir aku
akan pergi sejauh ini, ketika pesawat lepas landas ku melihat dari jendela
seluruh Jakarta yang di hiasi beribu-ribu lampu, aku menangis dalam hati
“apakah benar aku akan meninggalkan pulau jawa yang indah ini?”. 1 jam setengah
di perjalanan dan sampailah aku di benua batu bara Bandar Udara Syamsudin Noor,
Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan yang begitu melelahkan hingga
sampailah aku di Sungai Andai di mana Komplek rumah kakak ku berada. Saat
perjalanan menuju Komplek aku melihat beberapa sungai yang begitu besar, tak
salah bahwa pulau ini di beri nama Kalimantan.
1 Minggu kemudian akupun mencari sebuah loker
dari koran yakni koran Banjarmasin Post Group disana banyak sekali lowongan dan
9 perusahaan aku kirimkan CV, dan sampai sekarang aku masih menunggu panggilan
dari perusahaan tersebut. Terdiam ku di teras rumah, rumah yang bawahnya Rawa
terbuat dari kayu sangat jauh berbeda dengan bangunan rumah di Jawa. Aku
melihat tingkah pola masyarakat disini jauh berbeda dengan di kampungku, ya di
kapungku masih ada tegur sapa, senyum canda tawa, rukun dengan tetangga, gotong
royong dimana-mana, mungkinkah hal tersebut hanya berlaku di kampung saja? “ya
tuhannnnn” di sini semua sangat berbeda orangnya sendiri-sendiri acuh tak
peduli.
Suatu hari tepatnya tanggal 15 Agustus 2014
aku membuka salah satu jejaring sosial dan disana ada temanku yang upload
fotonya dengan latar merah putih, bendera dimana-mana, setiap gang terhiasi
dengan semua antusias warga tuk merayakan hari Kemerdekaan kita, dimana Orang
tua kita dulu berjuang, bertumpah darah, hanya untuk 1 kata merdeka. Sungguh
terbayang bagaimana perjuangan mereka menghabiskan semua harta benda bahkan
nyawapun mereka taruhkan, aku hampir
lupa bahwa sekarang akan mendekati Kemerdekaan indonesia, karena disini jauh
berbeda dengan Kampung halamanku yang begitu antusias merayakan Kemerdekaan
Indonesia disini hanya di depan gang saja ada bendera yang bertuliskan “Dirgarahayu
Indonesia” di setiap jalanpun ada namun
tak seramai kampungku, Ku berpikir apakah 17san kali ini aku akan menjadi warga
negara masyarakat yang tidak baik ? aku anak baru disini aku mencari sebuah
lapanganpun sulit, tapi akan aku usahakan di tanggal 17 nanti aku akan melihat
berkibarnya Bendara Pusaka, teringat dimana pada 3 tahun yang lalu dimana
setiap 17 Agustus aku selalu menjadi anggota Paskibra membantu jalanya
mengibaran sang merah putih degan pakaian putih-putih berpeci pin Garuda,
dengan kerja keras latihan yang hanya 2 minggu latihan tapi kita mampu
mengibarkan bendera dengan sukses aku
masih ingat semua itu. Derap langkah yang sama, Tegap dan Tegas adalah Prinsip
Kami, ya Paskibra. “Paskibra tidak takut salah ! tidak takut kalah ! tidak
takut mati ! takut mati jangan hidup ! takut hidup mati sekalian!”. Teringat di
17 Agustus 2012 pertama kali aku masuk SMK disana aku dan kawan-kawan berpartisipasi tuk menjadi anggota Paskibra
,membawa sang merah putih dengan pakaian lengkap ku berdiri hormat pada sang
merah putih detik-detik proklamasi di kumandangkan suasa begitu ramai, bersorak
seakan kita bebas dari semua penjajahan, kala itu bertepatan dengan bulan
Ramadhan sehingga banyak yang gugur terjatuh di buatnya. 10 Agutustus 2013
hampir 3 minggu aku latihan dan disana aku dapat membantu kembali mengibarkan
sang merah putih sungguh membanggaka, disini merupakan acara syukuran dan
selanjutnya paskibra kami akan di tampilkan di 17 Agustus mendatang namun
dengan salah pahaman teman-temanku yang sebenarnya dulu aku sedang sakit namun
teman-teman mengatakan pada sang pelatih bahwa aku tidak dapat izin maka dari
sana aku berhenti padahal hanya tinggal menghitung hari,kecewa rasanya namun
jiwa seorang paskibra tidak akan kalah dengan hal seperti itu. di tanggal 17nya
akupun berpakaian loreng ya TNI-AD wajah ku coret-coret, rambut ku potong
seolah aku adalah seorang pejuang semua orang tak mengenaliku, ku berjalan
begitu gagah semua orang menyapa “MARINIRRRRR....” saat itu aku dan iin begitu
bangga mengenakan seragam loreng-loreng di hari kemerdekaan ini.
****
17 agustus 2014 di Benua Batubara
Sepi
terasa tinggal di komplek, mungkin benar di tanggal 17 ini aku bukan warga
masyarakat yang baik untuk upacara saja aku tak bisa, ku tak menemukan lapangan
disini, akupun melihat sang langit dan di sebelah kananku ada sang merah putih
yang berkibar begitu indah ku terdiam
dan lidah ku mengucapkan P R O K L A M A S I
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN DISELENGGARAKANDENGAN CARA SAKSAMA DAN DALAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA.
DJAKARTA, 17 AGUSTUS 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA.
SOEKARNO-HATTA.
dengan sendirinya, tanpa ku sadari. Siang harinya ku berjalan-berjalan menyelusuri Benua batubara ini dengan kakak ku, ternyata antusias warga disini masih sangat besar terlihat di sudut-sudut kota mereka memeriahkan hari kemerdekaan RI, dengan lomba-lomba yang sangat unik. Aku tlah salah menilai benua batu bara ini, 17 Agustus disini tidak kalah rame dari kampungku, mungkin komplek ku saja yang masih belum bisa mengerti akan pentingnya 17 Agustus, dimana sang Proklamator pak Soekarno berjuang membebaskan kita dari kecaman sang penjajah. Kita sekarang sudah bebas! Dan kini tidak ada lagi penjajahan yang mengikat negara kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita membangun negara kita. Sebuah negara bebas, Negara Republik Indonesia-selamanya dan abadi independen. Kita harus menjaganya, jangan sampai ada yang merebutnya lagi maka dari itu jangan pernah sepelekan 17 Agustus. Sekian Ratih anak jawa yang berkelana di Benua Batubara





Komentar
Posting Komentar