Tersudut,tersungkur sendirian di atas teras kelas , ku menatap langit yang berawan layaknya hati ini yang tertutup akan kebahagiaan. Bel pulang sekolah telah lama berbunyi tetapi Riska masih terpaku dengan cerpen yang ia genggam, ia berulang kali meremas-remas cerpen itu. Kelihatan wajahnya begitu pucat, ku perhatikan gerak-geriknya ia pun berjalan dengan membawa lembaran cerpen miliknya. Jalanya kaku Nampak sesuatu menganjal dalam dirinya , pikiranya melayang entah kemana tatapanya kosong tak berarah tiba-tiba ia tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri ia terjatuh tersungkur di tanah. Seketika aku berlari keluar kelas menghampirinya ku bantu ia untuk berdiri namun ia tak mampu untuk berdiri lagi kala itu , akupun tak berdaya tak mampu mengangkatnya. “bunda” ujar Riska dengan nada putus asa “bun , kenapa jadi begini?” Tanya dia lagi Akupun duduk diatas batu bersampingan dengan tihang bendera , ku tatap matanya “tersenyum nak” sambil ku tatap tajam matanya “bun, ...
menulis adalah panggilan jiwa bagiku kalau kamu ?