Matahari mulai tenggelam meninggalkan lembayung senja, awan hitam menyelimuti malam yang begitu duka, ku mendengar sebuah tangisan meledak di sebelah kamarku, membuahkan petir yang membuat malam ini semakin mencekam. Entah apa yang membuat dia menangis namun baru kali ini aku mendengar ia menangis, si gadis tegar dan ceria itu bisa mengeluarkan air mata, apa yang membuat ia menangis begitu hebat? Apakah ia benar-benar terluka?. Keesokan harinya ketika ufuk timur mengantarkan Fajar, dan burung-burung ikut benari bersama ilalang. Ketika itu aku sedang bersenda gurau dengan fajar mengagumi ciftaan Tuhan yang tak pernah padam dan tiba-tiba Kak Nisapun mengagetkanku. “Dor! ca mau bareng ke sekolah gak?” memegang pundakku “Ah Kak kau mengagetkan saja, bareng dong. Kita kan mau latihan buat lomba puisi nanti” “Ya udah ayo, nanti kita telat ke sekolah” “Iya bentar, aku bawa tas dulu” sambil aku berlari ke kamarku . Kami berduapun menuju sekolah yang mungkin jaraknya agak jauh dari rumah...