Dalam membaca Al-Qur’an harus
menjaga ucapan agar tidak keluar dari kaidah makhorijul huruf dan shifatul
huruf serta melantunkan suara agar merdu terdengarnya, namun ada yang lebih
penting dari itu yakni memahami akan makna yang ada di dalamnya kemudian
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari Alloh S.W.T berfirman “Orang-orang yang
kami turunkan kitab kepadanya, mereka membaca dengan sebenar-benarnya” (QS.Al-baqaroh:121).
Imam Al-Ghozali berkata bahwa membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya adalah
mengikut sertakan lisan,akal,dan hati.
Akupun hanya bias terkagum-kagum
dengan suara sang qori yang setiap qobla
subuh dan maghrib melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ia membacanya dengan
hati sehingga aku terhanyut mendengarnya, aku semakin penasaran siapa yang
membaca ayat suci Al-Qur’an semerdu itu. Sepengetahuanku hanya pak ustadz
Solihin dan pak Rois yang selalu mengaji di mesjid Al-falah, bahkan aku sudah
hafal akan suara mereka. Namun akhir-akhir ini ada suara baru yang membuat aku
jatuh cinta dengan Musabaqoh Tilawah Qur’anya. Makharijul huruf, shifatul
huruf,ahkamul huruf,ahkamul mad wal qoshr yang ia telah kuasai menjadi sebuah
penilaian khusus bagiku, dan iapun telah menguasai Fashohah dan adab begitupun
dengan qiroatnya atau irama dan suaranya, begitu merdu dalam telingaku, akupun
penasaran pada qori di mesjid Al-falah itu, akupun bergegas membawa mukena
dengan maksud ingin bertemu dengan sang qori dan sekaligus sholat subuh
berjamaah. Namun, sesampainya di gerbang mesjid lantunan sang qoripun terhenti,
akupun bergegas mengambil air wudhu, adzan subuhpun berkumandang dalam wudhuku
aku bergumam “suaranya beda, seperti kak” setelah selesai berwudhu akupun
bergegas meniki shaf pertama dan kulihat di shaf laki-laki hanya ada 20 orang,
dan memang ada 2 orang anak muda di sana, aku tak bisa melihat begitu jelas
samar-samar di balik tirai membatas, ternyata 2 orang tersebut adalah seorang
murid pak ustadz solihin yang dating dari madrasah aliyah daerah ciamis untuk
berlajar Musabaqoh Tilawah Qur’an info dari ibu ustadjah, akupun terdiam
sejenak “astagfirullahaladzim” akupun langsung berdiri melaksanakan sholat
qobla subuh. Setelah salam tiba-tiba Aisyah mengagetkanku.
“Dor..”tanganya menekan pundakku.
“Eh Aisyah ini mesjid”
“Tumben nih udah duluan aja
disini” godanya
“Iya dong perubahan” Jawabku“
“ah masa”
Tiba-tiba suara merdu itupun
melantunkan iqomat, beberapa menit kamipun sholat berjamaah. Setelah itu Aisyah
mengajakku bergegas padahal aku ingin melihat sesosok qori itu kamipun berjalan
kea rah sungai tepat di bawah mesjid Al-falah, terlihat di ufuk timur cahaya
yang tak pernah padam itu telah muncul sebuah lukisan ciftaan Tuhan yang selalu
aku kagumi dengan taburan-taburan awan yang menjadi sebuah hiasan, membuat pagi
ini semakin indah, terdengar suara burung-burung berkicauan dan ikut bernari
dengan ilalang, gemuruh arus sungaipun ikut bergabung dengan suasana pagi ini. Aku
dan aisyahpun duduk di berbatuan pinggir sungai kita bermain-main air disana.
“Eh kalo dulu kita bermain
bertiga ya disini” aku memulai percakapan
“Iya ya, bareng ma anak nakal
itu, kini ia pergi jauh meninggalkan kita”
“Ye dia gak nakal lagi”
“Ciyee ada yang ngebelain nih”
“Bukan ngebelain, emang dia gak
nakal kok”
“Iya toh dia nakalnya Cuma sama
aku, sama kamumah baik Zahra”
“Kok gitu?”
“Iyalah pas kita mencari arti
dari nama kita dulu. Pas kamu aja, artinya bagus banget Zahra Nadya Akhyar”
“Fajar menyingsing yang mengawali
kebaikan” serentak akupun mengikutinya
“Nah itu bagus banget sedangkan
aku? Aisyah Farhana mandi di kaleng rambutnya basah, basah sekali, ,malah
dimain-mainin hah “
“hahahaha” gelak tawa kami memecahkan
suasana pagi itu, haripun semakin cerah, akupun dengan aisyah beranjak dari
sungai menuju rumah masing-masing.
****
“aduh aku lupa mau bertanya
tentang qori itu ke aisyah” gumamku
Akupun merenung sejenak di loteng
kamarku tepat berhadapan dengan mesjid. Ku lihat mesjid itu kini sudah menjadi
bangunan yang begitu megah yang dulunya hanya sebuah bangunan kumuh tempat
dimana aku, aisyah,dan dihar bermain, kini tempat itu telah menjadi tempat yang
sangat mulia, aku jadi rindu pada dihar, sungai permata yang berkilau, akupun
tersenyum dan bergumam “Fairuz El-Bachri Izdihar” teringat kembali dimana kita
pernah bersendagurau dibagunan mesjid yang sekarang telah menjadi bangunan yang
sangat megah dan kokoh.
“Kalau membicarakan masa depan,
kalian pilih calon suami yang gimana sih?” Tanya dihar
“Kalau aku sih yang pastinya
pinter ngaji, karena akunya ingin jadi guru ngaji, kalau kamu ra?”
Mata merekapun tertuju padaku
“Kalau aku sih. . yang aku tau
kalo pasangan kita itu adalah cerminan dari kita sendiri, tapi aku gak mau idia
itu cerminan aku”
“Kenapa” Tanya dihar
“Aku ingin dia itu lebih baik
dariku, aku belajar dari QS.An-nur:26 yang artinya wanita-wanita yang tidak
baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik dan laki-laki yang tidak baik untuk
yang tidak baik pula. Dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan
laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik pula”
“Tapi , kamukan wanita baik!”
kata Aisyah
“Lebih tepatnya belum, jujur aku
belum bisa jadi wanita baik, aku sedang
belajar untuk itu aisyah”
“Trus laki-laki yang baik seperti
apa Zahra yang kamu kagumi? Tanya Dihar
“Seorang qori, yang nantinya akan
mengajarkanku membaca Al-Qur’an dengan baik, menjadi seorang imam dengan asas-asas
yang di landaskan dari ayat-ayat yang ia lantunkan”
“Ehmm jadi seorang qori? Bukan aku
dong!” canda Dihar
“Emang bukan lo hahahahah” ejek
Aisyah
“Dan aku punya mimpi aisyah,dihar”
“Apa itu?” Tanya dihar
“Suatu saat dia akan melantukan
ayat-ayat itu disini, kelak kalau bangunan ini sudah menjadi mesjid seutuhnya,
yang senantiasa membangunkanku dan mengajakku untuk segera mendirikan sholat”
Akupun tegugah dari lamunanku dan
akupun semakin penasaran, dengan seorang qori di mesjid penuh dengan kenangan
itu. Apakah itu adalah seseorang yang Tuhan kirimkan? Dan apakah dia itu
seseorang yang selalu ada dalam mimpiku? Dan apakah mungkin dia itu jawaban
atas doa dalan tahajudku? Entahlah hanya Alloh lah yang tau la haula walaquata
illa billah.
***
Adzan asyarpun berkumandang aku
dan aisyah pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah dan mengaji
bareng pak ustadz, setelah itu kamipun kembali bermain ke sungai sedang asyik
aku bermain dengan air tiba-tiba pertanyaan Aisyahpun mengagetkanku.
“Ra, apa kamu seka sama dihar?”
“dihar? Entahlah aisyah, akupun
bingung tentang perasaan ini”
“apakah kamu masih berkomunikasi
dengan dia setelah 2 tahun dia meninggalkan kita?”
“masih aisyah, malahan pas malam
dia mengajak aku puasa 1 Rajab”
“apakah dia pernah mengutarakan
perasaaanya padamu?”
Akupun menghela nafas
“dia selalu cerita dia masih suka
sama Annisa Kasturi Naim”
“anak pak H.Mahmud?”
“iya, sementara akupun masih
selalu mengingat kakaknya yang dulu pernah mengisi hati ini”
“maksud kamu kak Qary Ahnat naim?
Ra?”
“iya, pembaca Al-Qur’an yang
memiliki keteguhan iman yang lebih”
“trus gimana?”
Akupun memberikan ponselku kepada
aisyah
“bacalah pesan dari Dihar ,
aisyah”
“saya sayang sama ukhty, saya saying
sama Zahra, saya tidak relka jika Zahra ada yang memiliki, maafkan saya yang
begitu egois.” Aisyah membacakan smsm dari dihar untukku “Hah aku gak percaya ini” sambil
menggeleng-geleng kepala dan melihat kearahku
“tapi kenapa kalian tidak jadian
aja ? Ra, kaliankan . ike lah aku tau kalian ini sama-sama suka dari dulu”
“jawabanya ada di sana” sambil
menunjuk ponselku.
Diapun kembali membacanya “karena
ukhty masih mencintai sesosok qari yang memiliki keteguhan iman yang lebih, dan
saya yang masih sayang kepada annisa yang pasti saya nyaman dengan ukhty jangan
pernah diartikan hubungan kita ini sebagai sahabat, biarkan hubungan ini
mengalir begitu saja” ia pun melihat kea rah ku “ini smsnya kapan ?”
“kalau itu sih sudah 1 bulan yang
lalu, tapi sudahlah eh aisyah aku malah jatuh cinta loh sama qori baru suaranya
itu telah mencuri sekeping hati ini”
“emang siapa?”
“entahlah, aku kira kamu tau?”
“kayaknya kak Qari deh”
“iya mungkin ya”
Tiba-tiba dari atas terdengar
suara annisa memanggilku dan iapun menghampiriku ke sungai
“kak Zahra” sapanya
“ada apa de” aku keheranan
“ini saya ketitipan surat dari
kak Qari katanya ini dari kak Dihar buat kak Zahra”
“dia menitipkan ini secara
langsung”
“kan satu minggu kak Dihar disini
kak, sebelum dia pergi lagi dia menitipkan ini kepada kak Qari dan ternyata kak
Qari di utus ma Pak Ustadz ke Pesantren”
“kok dia gak menghubungiku sih?”
“dia selalu menghubungimu kok
kak, dia selalu hadir, dia selalu membangunkan kakak kala subuh dan menyadarkan
kaka ketika fajar mulai terbenam dengan lantunan ayat yang dia bacakan”
“apa? Tunggu .. apakah dia Qori
dimejid ini?”
Annisa hanya mengangguk dan
tersenyum padaku setelah itu diapun berlalu. Akupun langsung membaca surat dari
Dihar untukku akupun melihat kearah aisyah iapun hanya mengangguk.
Assalamualaikum wr.wb
Apa kabar?
Fajar yang menyingsing mengawali
kebaikan , Zahra Nadya Akhyar, semoga ukhty ada dalam lindungan Sang pencifta
alam.
Ya ukhty
Hadirmu telah menciftakaan
suasana yang baru dalam hatiku, merubah hidupku lebih baik dari sebelumnya,
engkau bagai bidadari yang dikirim Alloh untuk memperbaiki pribadiku, karenamu
aku mampu menahan sifat-sifat burukku, terimakasih hadirmu telah mendekatkanku
pada-Nya.
Ya Ukhty
Ingakah dulu tentang sosok yang
kau cintai, kau kagumi, kau idamkan adalah seorang Qori , seorang pembaca Al-Qur’an.
Aku belajar untuk menjadi seorang qori idamanamu, aku belajar mengikuti jejak
kak Qari nahnat Naim maka setekah ukhty membaca surat dariku ini mungkin aku
sudah pergi menuju pesantren, maaf aku tidak menemuimu dulu, aku takut air mata
ini mengalir, aku hanya mampu menemuimu lewat lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang
1 minggu ini aku persembahkan unttukmu atas Ridho Alloh, mungkin bukan saat ini
aku menemuimu ukhty insyaalloh 5 tahun yang akan dating aku akan menemuimu dan
meminta kepada ayah untuk menjadikan ukhty sebagai kekasih halalku. Insyaalloh
Dan antara aku dengan annisa
sudah tidak ada hubungan apa-apa, tetaplah jadikan aku dalam setiap doa dalam
tahajudmu, hanya dzikir dan doa kita akan dipertemukan
Wassalamualaikum wr.wb
Hamba Alloh
(Fairuz.E.Izdihar)
Akupun langsung memeluk aisyah
aku menangis terharu, dan aku mengadah keatas mesjid terlihat
Bayangan dihar dengan Al-Qur’an
dan Tasbih dan dengan Sorban di lehernya tersenyum padaku, akupun tersenyum
padanya dan berkata “ dengan Ridho Alloh, aku akan menunggumu Qori , pencuri kepingan hatiku"
Komentar
Posting Komentar