Langsung ke konten utama

Tawa di Atas Luka

Matahari mulai tenggelam meninggalkan lembayung senja, awan hitam menyelimuti malam yang begitu duka, ku mendengar sebuah tangisan meledak di sebelah kamarku, membuahkan petir yang membuat malam ini semakin mencekam. Entah apa yang membuat dia menangis namun baru kali ini aku mendengar ia menangis, si gadis tegar dan ceria itu bisa mengeluarkan air mata, apa yang membuat ia menangis begitu hebat? Apakah ia benar-benar terluka?. Keesokan harinya ketika ufuk timur mengantarkan Fajar, dan burung-burung ikut benari bersama ilalang. Ketika itu aku sedang bersenda gurau dengan fajar mengagumi ciftaan Tuhan yang tak pernah padam dan tiba-tiba Kak Nisapun mengagetkanku. “Dor! ca mau bareng ke sekolah gak?” memegang pundakku “Ah Kak kau mengagetkan saja, bareng dong. Kita kan mau latihan buat lomba puisi nanti” “Ya udah ayo, nanti kita telat ke sekolah” “Iya bentar, aku bawa tas dulu” sambil aku berlari ke kamarku . Kami berduapun menuju sekolah yang mungkin jaraknya agak jauh dari rumah kontrakan kami. Di angkotanumum terlihat Kak Nisa membuat garis lengkung di wajahnya namun matanya tak mampu mebohongiku sayup, sembab, dan agak bengkak. Kami pun sampai di Lab bahasa sekolah kami, ternyata disana kami sudah ditunggu sama teman-teman yang lain. “Eh kalian telat nih 5 menit, pada kemana aja?” kata kak Ipay ketua dari sanggar puisi “Maaf, jarak rumah ke sekolah kan agak jauh” kata ku sambil duduk di samping kak Ipay sementara kak Nisa hanya tersenyum. Kak Nisa memang di kenal dengan gadis yang ceria, sehingga ia selalu memperlihatkan senyuman pada semua orang. Namun aku masih penasaran apa yang membuat ia menagis semalam. Latihanpun dimulai. Yang pertama adalah aku, aku belum mengerti dalam dunia puisi, aku hanya orang awan disini. Bahkan aku tak mengerti bagaimana cara membaca puisi dengan baik, yang aku bisa hanya cifta puisi bukan baca puisi. Akupun mencoba menggoreskan pena ku dalam satu lembaran kertas, ku coba merangkai kata dan menyamakan diksi. Akupun mencoba membacanya, ku belajar menempatkan jeda denganbenar. Setelah aku tampil di depan teman-teman sekarang bagian Kak Nisa yang kedepan, ia pun membacakanya dengan baik, ia memang sudah mahir dengan hal ini, 3 tahun ia begelut dengan dunia puisi. Ia pun memberikan senyumanya lagi, senyuman itu yang membuat semua orang suka ma dia. Setelah beberapa orang menampilkan puisi ternyata pembimbing kami, yang selalu kami panggil burin atau singkatan dari bu Rina memutuskan yang ikut lomba tersebut itu aku, dan ia menjadikan kak Nisa sebagai cadanganya. Aku orang baru disini tapi kenapa aku yang dipilih, aku agak riskan ma kak Nisa karena biasanya dia yang selalu mengikuti lomba tersebut, tapiKak Nisa malah mendukung aku dengan senyumanya. Waktupun terus bergulir, Senjapun menapaki dirinya di bumi,Kak Nisapun terdiam di tempat tongkrongan kami, iya bemain-main dengan ilalang dan aku lihat ia meneteskan air mata walaupun tak sehebat tadi malam. Akupun memberanikan diri menghampirinya, aku duduk di sampingnya seketika ia menghapus air mata di pipinya. “Kak kamu, kenapa sih? Apa gara-gara aku yang kepilih mengikuti lomba itu?” “Ahaha aku biasa aja kok, ih kamu apaan sih ya enggaklah kamu memang pantas ngikutin lomba itu ica, kamu punya potensi untuk itu, seharusnya aku udah berhenti di sangar puisi , harusnya aku fokus buat Ujian Nasional dan harusnya aku tidak perlu jadi cadangan, bener gak?” “Terus kenapa kamu nangis, Kak ?” “Siapa yang nangis? Orang mataku kelilipan” “Kak ingat gak, kata kakak dulu Sastrawan itu jujur, tapi kenapa kakak berdusta, ini bukan kakak ku yang aku kenal, mana kak nisa yang ceria ? mana kak? Bahkan semalam aku dengar kakak menangis, bukan kakak banget” setelah aku berbicara seperti itu ia pun memandangku ia memelukku . “Maafkan kakak ca, kakak hanya bisa meluapkan ini lewat air mata, mungkin diluar sana mereka menilai kakak itu wanita yang tegar,ceria, tapi itu hanya bayangan semu semua itu palsu kakak hanya ingin menyimpan ini sendiri” “Aku kecewa, sesosok yang aku banggakan ternyata mentalnya lemah ! ternyata ia munafik! Semua yang ia lakukan tidak sesuai dengan hati, semua tawa itu palsu !” akupun beranjak pergi namun ia serentak berdiri dan berkata yang begitu menganggetkanku. “Satu alasan ini adalah Ipay de” sambil agak teriak. Akupun menengok dan kembali menghampiri dia “Kak ipay? Ada apa dengan dia kak? Apakah dia melakukan kesalahan?” “Dia itu Bintang sekolah kakak, dia yang memberikan gelang ini pada kakak, dari dulu kakak suka ma dia sampai pada saatnya kakak memberikan sepenuh hati buat dia. Tapi, ia mengecewakan kakak ca, ia merobek seluruh puisi hati kakak, ia membuat goresan luka di hati kakak, setiap kakak datang di Sanggar, kakak itu mencoba menahan rasa luka dengan tawa tapi hati kakak tak mampu menahan sakit itu sehingga pada malam tadi kakak menangis melampiaskan ini semua.” “Tapi kenapa kakak nangis? Ica belum ngerti” aku bingung pada saat itu “Ipay, itu menyatakan cintanya pada kakak tapi ia hanya mempermainkan kakak, ia hanya mecari popularitas di sekolah setelah ia mendapatkan itu semua, ia mendekati orang lain. kakak kecewa de, semudah itukah ia mempermainkan perasaan wanita?” “Apakah kakak tau cewek itu siapa?” “Entahlah de, kakak tak ingin tau, dan jika kakak tau juga hanya nambah goresan saja disini” sambil meletakan tanganya dihati dan tersenyum. Keesokan harinya aku menemui kak Ipay yang sedang nulis di Lab bahasa sekolah “Eh hey ca, sini” kata dia sambil tersenyum “Ehh kak ada waktu gak nih .. aku mau bicara?” “Ada dong, , bicara saja” “Kenapa kakak tak pernah bilang, bahwa kakak pernah ada hubungan dengan kak Nisa? Kenapa kak ?” “Dari mana kamu tau” “Kakak tak perlu tau ini dari siapa, kakak jahat ya ! setelah kakak mendapatkan popularitas sekarang kakak meninggalkan dia dan mendekatiku,semudah itukah kak, kakak mempermainkan seorang wanita!” “Popularitas? De jangan salah paham. Kakak disini menjadi ketua sanggar demi kak Nisa, maaf banget jika kakak menyakitimu” “Kok malah menyakitiku kak? Kakak itu sudah jelas menyakiti kak Nisa bukan aku !” “Huh..” ia menghelas nafas begitu panjang “Begini de, sebelumnya kakak minta maaf, mungkin kamu mendapatkan semua ini dari kak Nisa jugakan? Pantas saja dia beda sama saya, jujur kakak mendekatimu hanya untuk mendekati kak Nisa, dari dulu ia tak pernah yakin bahwa sebenarnya kakak sayang sama dia, entah harus bagaimana kakak menyakinkanya, kakak ikutan sanggar ini dan menjadi ketua itupun demi dia, tapi dia tak pernah sadar akan hal itu” “Trus, apa arti aku selama ini kak?” “Maaf.. maaf… kakak memang salah seharusnya kakak gak pernah bermain dengan hati , Hati kakak yang berbicara . bahwa hati kakak memang sudah dimiliki oleh kak Nisa de . maafkan aku” Akupun terdiam disana, aku tak bisa berkata-kata aku hanya bisa melotot kearah pintu yang dari tadi ada seseorang yang berdiri disana dengan memakai gelang di tangan kananya. Hati tak mampu kita paksakan, dan ketika hati berbicara kita hanya mampu terdiam. Entah apa yang terjadi hanya hatilah mengetahui. Dan ketika hati berbicara tidak ada satu orangpun yang mampu merubah keyakinan itu termasuk keyakinan hati si Bintang Sekolah kak Ipay.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menurut Gue

Menurut gue, kesempatan itu gak datang dua kali. Ketika ada kesempatan maka manfaatkan kesempatan itu jangan lo sia-siain, dalam hubungan ketika dia tak bisa memperjuangan kesempatan itu sulit untuk memberikan kesempatan ke-2 itu bagi gue ya.  Menurut gue, jika sebuah kepercayaan telah hancur di kesempatan pertama, dan buat gue kecewa. Gue gak mau kembali kecewa, gue gak mau ambil resiko jika suatu saat dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Menurut gue, sabar itu penting. Coba aja lo sabar mungkin ceritanya gak bakalan gini, gak bakalan ada yang  kecewa dan dikecewain, coba deh berpikir lebih positif ke arah depan jangan nengok ke belakang mulu, apa sih mikirin masa lalu, yang malah bikin lo semakin terpuruk dan tersesat, sedih gak jelas, sakit iya. Menurut gue, ketika lo mencoba bangkit dari keterpurukan lo, lo harus bisa menghapus semua potret tentang dia di hati lo, jangan setengah-setengah kalo lo ingin cepet Move on, ya mungkin lo susah lupain dia, ...
Kesalahan fatal yang gue buat skenarionya sendiri, remaja labil seperti gue emang sulit menetapkan sebuah perasaan kadang gue bilang "suka banget", "cinta banget", "sayang banget" tapi tak jarang gue juga bilang "benci banget". Pernah gak sih lo pikir saat remaja kayak gini kita tuh kayak orang gila kadang mesem-mesem sendiri, ketawa sendiri, bahkan marah-marah sendiri. Itulah remaja emosinya masih memuncak dengan hati yang masih labil. Ketika telah mengenal cinta ada dua pilihan, hancur atau bahagia. Bagi lo yang masih sekolah jangan harap prestasi lo naik ketika lo tlah mengenal problem cinta. Gue sendiri korbanya hahaha malah curhat, prestasi turun, nilai ujian anjlok, belajar gak fokus, pikiran kita gak singkron dengan hati. Situasi seperti ini yang sering di alami kita jika kita mengenal apa itu problem cinta. lo tau Galau? iya Galau, pernah ngerasain? Bohong banget kalo lo gak pernah ngerasain apa itu galau toh dari anak kecil ...

Qori, Pencuri Kepingan Hati

Dalam membaca Al-Qur’an harus menjaga ucapan agar tidak keluar dari kaidah makhorijul huruf dan shifatul huruf serta melantunkan suara agar merdu terdengarnya, namun ada yang lebih penting dari itu yakni memahami akan makna yang ada di dalamnya kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari Alloh S.W.T berfirman “Orang-orang yang kami turunkan kitab kepadanya, mereka membaca dengan sebenar-benarnya” (QS.Al-baqaroh:121). Imam Al-Ghozali berkata bahwa membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya adalah mengikut sertakan lisan,akal,dan hati. Akupun hanya bias terkagum-kagum dengan suara sang qori   yang setiap qobla subuh dan maghrib melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ia membacanya dengan hati sehingga aku terhanyut mendengarnya, aku semakin penasaran siapa yang membaca ayat suci Al-Qur’an semerdu itu. Sepengetahuanku hanya pak ustadz Solihin dan pak Rois yang selalu mengaji di mesjid Al-falah, bahkan aku sudah hafal akan suara mereka. Namun akhir-akhir ini ada suara baru yang m...