Aku
bosan dengan semua ini !
Aku
ingin hidup normal !
Layaknya
orang di luar sana …
Aku
bosan ! Aku bosan ! Aku bosan !
Ratih
berlari, berlari terus tanpa menengok ke belakang.Dan kala itu gulita telah
datang, gemercik hujanpun menyertai langkahnya, pepohonan yang tinggi di
sebrang jalan menambah keadaan semakin kelam.Namun Ratih terus berlari tak
pedulikan jalan setapak yang penuh air dan tanah yang licin.
Kenapa
harus berlari?
Aku
bingung sama anak itu setiap pulang dari pekerjaanya ia selalu berlari-lari
layaknya di kejar-kejar dekoleptor. Wajahnya penuh ketakutan,bimbang dan tanya.
Namun setiap aku tanya kenapa, ia hanya menggelengkan kepala. 2 tahun kami
bertetangga tapi selama itu pula ia tak pernah mau berbagi cerita denganku. Ratih
sudah tinggal lama di kamar itu, ia itu seorang mahasiswa ekonomi semester 5
dan sekarang ia magang di salah satu perusahaan di Daerah Cimahai-Bandung. Para
tetangga yang lainpun kurang akrab dengan diakarena sikapnya yang dingin dan
tertutup, menurut info yang ku dapat dari tetangga lain ia agak setres kadang
ia berteriak, ngobrol sendiri,dan tertawa sendiri bahkan nangis tanpa sebab
akibat. Hingga pada malam itu aku dengar sendiri lewat kamar, teriakan kesal
Ratih.
“Aku
bosan dengan semua ini !
Aku
ingin hidup normal !
Layaknya
orang di luar sana …
Aku
bosan ! Aku bosan ! Aku bosan !”
Aku
terus mendengarkan lewat tembok pembatas kamarku denganya, akupun agak iba apa
yang ia maksud dengan hidup normal dan layaknya orang di luar sana ?apakah ia
di buang orangtuanya ? gumamku dalam hati. Saking penasaranya akupun punya ide
walaupun agak nekad, akupun keluar dari
kamarku menuju kamar Ratih, siapa tau dia mau berbagi cerita denganku walaupun
pada saat itu rasa takut menghampiriku.
“Ratih…
tihh” sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Siapa”
agak sinis
“Aku
Rat, Ani tetanggamu”
“Mau
apa kamu?” katanya agak sinis
“Boleh
gak aku nginep di kamarmu, kasurku basah gentengnya bocor”
“Nginep
aja di tetangga lain, kayak yang gak ada kamar lagi aja !”
“Mereka
sudah pada tidur tih, aku gak tega banguninya. Ya udah kalo gak mau tih, aku
tidur di Pos satpam saja” kataku kesal
Namun
tiba-tiba Ratihpun membukakan pintu kamarnya untukku, kamarnya cukup nyaman,
akupun duduk di atas karpet merah milikknya. Kamipun terdiam, ingin sekali aku
mengawali percakapan namun aku takut Ratih malah akan marah dan terganggu akan
kehadiranku. Akupun memaksakan diri tak peduli respon Ratih gimana, ketika ku
akan memulai percakapan ia malah berdiri dan menuju ke arah belakang. Aku malah
heran dan kebingungan ternyata benar kata orang-orang ia orangnya dingin
malahan sangat dingin, 5 menitpun berlaru Ratihpun datang dengan membawa
cemilan dan 2 gelas teh manis hangat, ia pun duduk di sampingku dan memberikan
teh manisnya keoadaku.
“Minum..”
kata dia sambil ia meminum air teh manis buatanya sendiri
“Iya,
Makasih ya tih” aku pun tersenyum padanya sambil ku minum air teh manis dari
Ratih
“Iya”
sambil menyimpan gelas di karpet merah
miliknya
Akupun
memulai percakapan dan mencoba memancing dia untuk bercerita , mudah-mudahan ia
mau menceritakan bebannya padaku. Karena
aku lihat dari matanya ada yang lain dari dirinya.
“Tadi
aku dengar kau berteriak, ada apa?”
“Kau
dengar?”
“Iya,
Maaf”
“Oh”
“Kau
ada masalah?”
“Jangan
ikut campur masalah orang!”
“Aku
bukan ikut campur, aku hanya ingin menjadi sahabatmu yang selalu menjadi
pendengar dan teman baikmu itu saja”
“Benarkah?”
“Iya
Ratih, aku ini ingin sekali berteman denganmu, kita ini bertetangga sudah 2
tahun tapi kita tak pernah bertegur sapa”
“Apa
kau gak takut denganku?”
“Kenapa
harus takut?toh kita sama nih minum teh manis , kalau kamu minumnya batu baru
aku takut” aku menggodanya iapun tertawa
“Baru
kali ini ada tetangga yang ingin berteman denganku, terimakasih”
“Iya,
sama-sama. Tih kamu itu kenapa sih, aku kadang lihat kamu itu murung, ada apa
?” akupun mulai memancing dia untuk bercerita.
Pada
malam itu Ratih menceritakan semuanya, berawal dari ia berumur 7 tahun, ia
merasa aneh dalam dirinya. Dan ternyata Ratih ini mempunyai kemampuan khusus
untuk melihat hal Ghaib, dia ini Indigo, pantas saja tetangga menggap dia
setres ternyata dibalik semua itu ia memiliki indra ke-6 yang mampu melihat
yang tak bisa aku lihat.
“Pas
umurku 10 tahun di depan kompleks rumahku, ada pertunjukan Topeng Monyet disana
anak-anak pada berkumpul untuk melihatnya begitupun dengan aku. Aku selalu
membawa uang receh di kantong celanaku untuk ku berikan pada monyet itu,
pertunjukan topeng monyet itu rutin datang ke komplek rumahku mungkin dalam 1
minggu ada 3-4 kali” paparnya,akupun langsung memotong cerita ratih
“Kenapa
jadi topeng monyet tih?” kataku heran
“Makanya
dengerin dulu, jangan asal memotong, lanjutin gak nih?”
“Hehe
aku bingung tih, lanjutin dong”
“Nah
aku itu selalu mengikuti topeng monyet itu, sampai ada 2-3 kampung aku lewati,
nah yang buat aku tertarik untuk menonton topeng monyet itu sebenarnya bukan
topeng monyetnya, tapi mahluk lain yang mengikuti topeng monyet itu” kata
ratih, akupun terperanjat dan kaget aku
semakin penasasran saja.
“Lantas
apa?”
“Akupun
tak tau tapi mereka selalu tersenyum padaku, mereka itu banyak, ada si pemukul
kendang,Bonang ya layaknya topeng monyet yang terlihat oleh orang-orang”
“Bagaimana
dengan rupanya tih?” akupun mulai merinding dan mendekatkan diri pada Ratih
“Nah
untuk rupanya itu , sudahlah tak perlu di ceritakan nanti kau takut”
“Hehe
iya sih tapi kalau gak di ceritakan nantinya penasaran tih”
“Oke
untuk rupanya aneh-aneh ada setengah kuda dan setengah manusia, setengah ular
setengah manusia ya gitu deh ni. Nah dari sanalah aku tau bahwa aku adalah anak
indigo, jadi jangan heran kalau tetangga disini sering membicarakanku malahan
aku dengar mereka memfonisku sebagai orang setres”
“Iya
mereka selalu bilang seperti itu, maafkan mereka ya”
“Sudahlah
akupun mengerti besok lagi sudah jam 23.00, meningan kamu tidur, diapun sudah
datang sekarang dia duduk di hadapan kita yu ah tidur”
“siapa
tih?” akupun terus mendekati ratih . tapi ratih hanya tersenyum simpul.
Keesokan
harinya ratihpun menceritakan semuanya padaku.
“Aku
kadang disebut aneh disekolahan dari aku sd sampai aku kuliah seperti ini
karena di kelas aku memang pendiam, aku selalu menyendiri, aku tak berani menceritakan semua masalahku pada
mereka, aku takut mereka hanya memanfaatkanku nantinya, aku menceritakaan ini
padamu ni karena aku tau kamu orang yanga baik. Pas di smp aku pernah di sebut gila ketika aku memberi
tau teman jangan ke toilet karena di sana ada sosok tinggi besar begitu
mengerikan, sering aku disebut Setres
karena aku kadang ngobrol sendiri, padahal aku tidak ngobrol sendiri aku
mengobrol sama anak kecil yang mungkin dia ini yang mereka panggil tuyul, trus
kadang aku tertawa sendiri itu bukan mauku merekalah yang selalu menggelitikku
sehingga aku ketawa sendiri, aku capek ni dengan keadaan ini aku ingin menutup
mata batin ku kalau bisa, setiap malam mereka selalu datang untuk di temani bermain, aku capek ni
capek”
“aku
mengerti tih apa yang kamu rasakan , tih aku ingin bertanya trus kenapa setiap
malam setelah pulang bekerja kamu selalu berlari?”
“ouh
itu.. iya karena aku takut an dia selalu mengejarku, dia ingin sekali tinggal
di tubuhku an, aku takut an takut dia itu sesosok yang begitu menakutkan, dia
itu tinggi besar namun kadang ia menjelma menjadi seorang manusia yang begitu
tampan dan membuat aku jatuh cinta padanya, ia ingin mengajakku ke dunianya an,
aku takut”
“Sampai
segitunya kah?”
Ketika
aku bertanya seperti itu ratih pun melotot tanganya gemetar dan ia pun
terbata-bata
“iiii..i.i.ia
an, dann sekarrangg did..ia ada di belakangmu”

Komentar
Posting Komentar