Tersudut,tersungkur
sendirian di atas teras kelas , ku menatap langit yang berawan layaknya hati
ini yang tertutup akan kebahagiaan. Bel pulang sekolah telah lama berbunyi
tetapi Riska masih terpaku dengan cerpen yang ia genggam, ia berulang kali
meremas-remas cerpen itu. Kelihatan wajahnya begitu pucat, ku perhatikan
gerak-geriknya ia pun berjalan dengan membawa lembaran cerpen miliknya. Jalanya
kaku Nampak sesuatu menganjal dalam dirinya , pikiranya melayang entah kemana
tatapanya kosong tak berarah tiba-tiba ia tak mampu menahan berat tubuhnya
sendiri ia terjatuh tersungkur di tanah. Seketika aku berlari keluar kelas
menghampirinya ku bantu ia untuk berdiri namun ia tak mampu untuk berdiri lagi
kala itu , akupun tak berdaya tak mampu mengangkatnya.
“bunda”
ujar Riska dengan nada putus asa
“bun
, kenapa jadi begini?” Tanya dia lagi
Akupun
duduk diatas batu bersampingan dengan tihang bendera , ku tatap matanya
“tersenyum
nak” sambil ku tatap tajam matanya
“bun,
apakah gara-gara ini?” sambil ia menyodorkan lembaran cerpen miliknya padaku ,
padahal aku sudah tau isi cerpen itu. Ia menunduk namun tanganya menginginkan
aku untuk mengambil lembaran cerpen itu.
“maaf
bun, aku tlah merusak kebahagiaanmu, aku tlah membuat semua menjadi hancur, aku
membuat kontraversi yang begitu hebat ku menciftakan perdebatan peperangan
antar saudara , tapi apakah benar ini salahku? Apa aku salah bun ? aku hanya
menyalurkan kekagumanku padamu , aku hanya meluapkan semua yang ada dibenakku
tentang dirimu lewat cerpen ini tapi kenapa mereka menganggap ini merupakan
sirine perang untuk mereka kenapa bun? Apakah benar aku salah ? jika salah
dimana letak kesalahanku , tunjukan itu !”
“kau
tak pernah salah nak , luapkanlah apa yang ada di benakmu. Tidak ada 1 orangpun
yang mampu melarang seorang sastrawan untuk berkarya”
“tapi..
karyaku ini… membuat kontraversi , apakah aku masih layak menjadi seorang
penulis ?”
“tentu,
karena menulis adalah panggilan jiwa”
“bun..”
ia menghela napas dan melanjutkan bicaranya.
“bun,
bunda inikah tulisan terakhirku? Semua ini membuatku kepercayaan diriku hancur,
bun sayap ku tlah patah aku tak mampu terbang mengarungi samudera semangat ku
tlah sirna” arah matanya kini tertuju pada cerpen milikknya yang kini aku
pegang .
“jangan
bilang begitu ! saya adalah orang yang akan pertama kali protes andai kau
berhenti menulis tetap kepakan sayapmu nak , andai kau ketahui semangat itu
dapat kau tumbuhkan dari hati”
“tapi
bun..”
“tapi
apa? Ingat menulis itu panggilan jiwa! Perkara seperti ini ? aku yakin tak akan
menyurutkan niat dan langkah untukmu terus berkarya”
“bun.
Aku ini di mata orang merupakan orang yang paling tegar, tapi aku tak selamanya
tegar aku masih punya titik kelemahan dimana aku terjatuh di antara puing-puing
kelemahan. Bun, aku mampu merangkai ribuan kata seperti ini karena niat baikku
untuk membanggakanmu tapi jika karyaku ini mengkorbankan mu , aku tak rela!”
“luruskan
pandanganmu, mantapkan keyakinanmu ! bunda , lebih tak rela jika kau berhenti
menulis!”
Ia
hanya menunduk , ia tak mampu berdiri, ia tak mampu untuk bangkit. Ku coba
tawarkan tanganku tapi ia hanya diam ku tawarkan sekali kini wajahnya kengadah
melihat kearah aku berdiri dari batu tempat dimana aku duduk dan iapun
tersenyum dan menerima tanganku untuku membantu dia bangkit dari keterpuruknya.
Ku anggkat dia , ku peluk dan ku bisikkan “tetaplah menulis untukmu,untukku,dan
untuk mereka , ingat saya adalah pembaca setiamu”
Iapun
tersenyum aku menyelipkan lembaran cerpen miliknya di sela-sela tanganya. Tepat
siang itu di bawah sang mentari dan merah putih yang berkibar di atas kita ia
bangkit dari keterpurukkanya dengan semangat yang berasal dari hati.
****
Sore
hari, di istana sederhana , aku dan Eva sedang bermain-main di atas sopa dan
menonton Spongebob, kartun kesukaan anak semata wayangku. Semua itu sekedar
untuk melupakan kepenatanku yang ku jalani hari ini , Eva adalah obat paling
ampuh di atas puluhan obat yang mereka tawarkan padaku.
“tring.. tring..” terdengar suara ponselku berbunyi, kubiarkan karena tidak ada 1 hal pun yang mengganggu kebahagiaanku bersama anak semata wayangku ini , akupun tersenyum pada eva .
“mah hp nya bunyi” kata Eva
“tring.. tring..” terdengar suara ponselku berbunyi, kubiarkan karena tidak ada 1 hal pun yang mengganggu kebahagiaanku bersama anak semata wayangku ini , akupun tersenyum pada eva .
“mah hp nya bunyi” kata Eva
“sudah,
biarkan saja nak”
“tring..tringg”terdengar
lagi suara ponselku berbunyi aku penasaran tapi aku tak mau menyia-nyiakan
waktu bersama Eva karena aku tau waktukku di habiskan lebih lama di sekolah
dari pada di rumah. “tring.. tring..” ponsel kembali berbunyi hampir 5 kali
ponselku berbunyi namun aku hiraukan begitu saja. “tring..tring” kembali
ponselku berbunyi akupun penasaran dengan yang ini ku biarkan Eva nonton
sendiri ku berjalan menuju kamar , mengambil ponsel yang berada di dalam tasku
.
“banyak
sekali sms” aku hiraukan begitu saja tanpa aku baca satupun , akupun berjalan
lagi menuju sopa dimana Eva berada. “Tring..tring..” kembali lagi ponselku
berbunyi “huh sms apasih” kataku jengkel . akupun kembali ke kamar ku duduk
diatas kasur ku ambil ponselku lagi kini ku buka pesan pesan mereka ternyata
sebuah send all dari anak-anak yang aku ajar tapi hampir semua sama terlihat di layar
messangge ku akupun memilih 1 pesan , ku baca pesan pertama. Tiba-tiba mataku
tercengang jatungku berdegup begitu kencang tanganku gemetar aku tak percaya
aku meraba-raba ku coba buka pesan ke
dua , ke tiga , sampai ke 5 ternyata smsnya sama
“Riska”
aku berteriak aku menangis tertahan ..
Baru
tadi siang aku mendekapnya , memberi semangat untuk dia, tapi kenapa waktu tak
berpihak pada kita . akupun segera mengambil kerudung di balik pintu kamarku ku
pergi menuju lokasi , tapi aku terlambat ia telah pergi kini ku lihat lautan
darah menggenangi jalan ku lihat lagi lembaran cerpen yang dia bawa tadi
berselimpahan darah , ku bawa cerpen itu .. “tring..tringg..” ponselku kembali
berbunyi , ternyata smsm yang sama dengan orang yang berbeda. Aku baru sadar
ternyata yang dia tanyakan padaku merupakan sebuah firasat , aku teringat pada
percakapan tadi siang “bunda,apakah ini tulisan terakhirku?” dan aku tlah
menjawab salah. “ya nak ! ternyata kau benar ini tulisan terakhirmu nak” sambil
aku menatap darah yang menggumpal di jalanan, ku duduk di gerbang sekolah
dimana telah menjadi lokasi kecelakaan Riska yang tertabrak si mesin berjalan , akupun membaca tulisan terakhir riska kini
hanya tulisan ini yang menjadi sanksi bisu . “tring..tring..” ponsel ku kembali
berbunyi .. ku buka pesan itu dari nomer 082126759052 yang aku beri nama Restu berisi “Innalilahi .. telah berpulang Riska semoga
amal dan ibadahnya di terima di sisi Alloh”. Aku terdiam ku lihat sms-sms dari
anak-anakku tapi ada 1 yang belum baca tertera pesan dari riska aku baca aku
menangis aku peluk cerpen itu aku berteriak “Riska..”
Ku
terbata-bata membaca pesan itu ..
“Bunda
, entah apa yang membuat riska ingin smsm bunda, tadi siang bunda tlah membuat aku semangat
lagi , tapi aku rasa tekadku sudah bulat bun, aku akan berhenti menulis ,
karena aku sudah tak menemukan inspirasi otakku terhenti untuk berpikir bun
, bun tolong katakan selamat tinggal
untuk tulisan ku terimakasih bun.
Tertanda:Riska”
****

Komentar
Posting Komentar